Jenarlor,Purwodadi-Bahaya penyakit Leptospirosis kini menjadi sorotan utama di Desa Jenarlor. Menyadari tingginya resiko di kawasan pertanian, Pemerintah Desa Jenarlor menggelar sosialisasi intensif pada hari Senin, 27 April 2026 di Balai Desa Jenarlor.
Acara yang dihadiri perwakilan kelompok tani, kader posyandu, ketua RT dan RW serta perangkat desa ini menghadirkan dua narasumber kunci dari bidang kesehatan dan pertanian, yakni tim dari Puskesmas Bragolan dan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Purwodadi. Kolaborasi ini bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh, baik dari sisi pencegahan medis maupun teknis pengelolaan lingkungan pertanian.
Dalam sesi pertama, narasumber dari Puskesmas Bragolan, dr. Christinawati, memaparkan betapa seriusnya ancaman Leptospirosis.
"Bakteri Leptospira yang ditularkan melalui urine tikus bisa masuk ke tubuh kita melalui luka atau selaput lendir tanpa kita sadari. Gejala awalnya mirip demam biasa, sehingga masyarakat sering menganggap remeh. Apabila terlambat ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan kematian", ujar dr. Christinawati.
Narasumber dari Puskesmas Bragolan menekankan beberapa gejala yang harus diwaspadai:
- Demam tinggi
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Mual dan muntah
- Mata merah
- Ikterik
- Nyeri betis
"Jika gejala ini muncul setelah kontak dengan genangan air atau lingkungan sawah, jangan ditunda, segera lapor ke Puskesmas agar mendapat penanganan sedini mungkin", tambahnya.
Sementara itu, BPP Kecamatan Purwodadi fokus pada strategi pencegahan di garda terdepan, lahan pertanian. Mengingat sebagian besar warga Jenarlor adalah petani, peran tikus sebagai hama sekaligus pembawa penyakit menjadi perhatian serius.
"Tikus sawah bereproduksi sangat cepat. sepasang tikus dapat menghasilkan keturunan >2.000 ekor setiap tahun. Kita tidak bisa menghilangkan tikus 100%, tapi bisa mengelola populasi dan memutus rantai penularannya", tegas Ibu Annisa Winastuti Nurlitasari, S.P, penyuluh pertanian dari BPP Purwodadi.
Metode yang dapat digunakan antara lain:
*Fisik/Mekanis : Gropyokan Massal, Trap Barrier System (TBS), Emposan (Pengasapan Sarang)
-Teknik TBS lihat di sini dan di sini
-Teknik Emposan/pengasapan sarang lihat disini
*Hayati : Konservasi predator alami, seperti ular sawah dan burung hantu
*Racun Nabati : Bioyoso
*Kimiawi : Rodentisida antikoagulan
Pembahasan selengkapnya mengenai metode pengendalian tikus sawah dapat dilihat di sini
Kolaborasi kedua narasumber menghasilkan satu pesan kunci bagi para petani, yaitu pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
"Sawah adalah sumber rezeki, tapi jangan sampai menjadi sumber penyakit. Kami dari pertanian menyarankan penggunaan sepatu boots saat bekerja di sawah atau saat membersihkan selokan", ujar Ibu Lita.
Puskesmas bragolan menambahkan,"APD adalah perisai utama anda dari bakteri Leptospira yang bersembunyi di lumpur. Sederhana, tapi bisa menyelamatkan nyawa".
Dengan edukasi dari Puskesmas Bragolan dan BPP Purwodadi, kami beharap warga Jenarlor semakin waspada dan mampu melindungi diri. Petani yang sehat adalah kunci desa yang produktif.